Pembelajaran kontekstual

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Oleh Kuncahyo Warih Wicaksono

Prolog : Pembelajaran yang berorientasi target penguasan materi terbukti berhasil dalam kompetensi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan inilah yang terjadi pada banyak kelas di sekolah kita. Namun akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa, anak belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar menjadi lebih bermakna jika anak ‘mengalami’ apa yang dipelajarinya, bukan ‘mengetahui’ nya. Hal inilah yang sebaiknya terus dilakukan karena sesuai dengan jiwa kurikulum berbasis kompetensi atau kurikulum tingkat satuan pendidikan.

HAKIKAT PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning)/CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yaitu bertanya(questioning), menemukan(inquiry), konstruktivisme(constructivism), masyarakat belajar(learning community), refleksi(reflection), pemodelan(modelling), dan penilaian otentik (aunthentic assessment).

Berikut ini dibahas masing-masing komponen dalam pembelajaran CTL.

Konstruktivisme(Constructivism)

Konstruktivisme(Constructivism) merupakan landasan berpikir pembelajaran CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit  yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.

Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan terbiasa dengan ide-ide. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa menemukan dan menstansformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.

Dengan dasar itu, pembelajaran sebaiknya dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru.

Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat bila selalu diuji dengan pengalaman baru.

Penerapan dalam pembelajaran sehari-hari yaitu, ketika merancang pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan ide, dan sebagainya.

Menemukan (inquiry)

Menemukan (inquiry), merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran  berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkan. Topik mengenai dua jenis binatang melata, sudah seharusnya ditemukan sendiri oleh siswa, bukan ’menurut buku’. Inkuiri dapat diterapkan pada semua bidang studi : Bahasa Indonesia (menemukan cara menulis paragraf deskripsi yang indah); IPS (membuat sendiri bagan silsilah raja-raja Majapahit); PPKN (menemukan perilaku buruk warga negara). Kata kunci dari strategi inkuiri adalah ’siswa menemukan sendiri’.

Bertanya (questioning)

Bertanya (questioning), merupakan strategi utama dalam pembelajaran CTL. Dalam kegiatan pembelajaran, bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan pada aspek yang belum diketahuinya. Hampir pada semua kegiatan  belajar questioning dapat diterapkan. Pada kegiatan pembelajaran di kelas, bertanya dapat diterapkan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa lain dan antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke dalam kelas. Aktivitas bertanya dapat ditemukan pada kegiatan diskusi, kerja kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati. Kegiatan-kegiatan tersebut akan menumbuhkan dorongan untuk bertanya. Kegiatan bertanya berguna untuk : a) menggali informasi, b) mengecek pemahaman, c) membangkitkan respon, d) memfokuskan perhatian, e) menyegarkan pengetahuan.

Masyarakat Belajar (learning community)

Konsep masyarakat belajar (learning community) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama siswa dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar meraut pensil ia bertanya kepada temannya”Bagaimana caranya ? Tolong bantu aku !” Temannya yang sudah terbiasa, menunjukkan cara mengoperasikan alat itu. Maka dua orang anak tersebut sudah membentuk masyarakat belajar (learning community).

Hasil belajar diperoleh melalui ’sharing’ antara teman, antara kelompok adan antara yang tahu kepada yang belum tahu.

Pada kegiatan pembelajaran di kelas, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang kurang pandai, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap menolong yang lambat, yang punya gagasan segera memberi usulan dan seterusnya.

’Masyarakat belajar’  bisa terjadi bila ada proses komunikasi dua arah. Seorang guru yang mengajari siswanya bukan contoh masyarakat belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah, yaitu informsi hanya datang dari guru ke arah siswa, tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari oleh guru dari siswa. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Orang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.

Pemodelan (modelling)

Pada kegiatan pembelajaran untuk mengenalkan pengetahuan atau keterampilan perlu ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melepar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris dan lain-lain. Ketika guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu, berarti guru telah menjadi model tentang ’bagaimana cara belajar’. Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Ketika guru mendemonstrasikan cara membolak-balik teks. Gerak mata guru dalam menelusuri bacaan menjadi perhatian utama siswa. Dengan begitu siswa tahu bagaimana gerak mata yang efektif dalam melakukan scanning. Secara sederhana , kegiatan itu disebut pemodelan.

Guru bukan satu-satunya model. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh temannya cara melafalkan satu kata. Siswa contoh tersebut merupakan model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapainya. Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penutur asli (native speaker)berbahasa Inggris dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi model cara berucap.

Refleksi (reflection)

Refleksi (reflection) adalah  cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke arah belakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru, yang merupakan pengayaan atau revisi pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Misal ketika pelajaran berakhir, siswa merenung,”Kalau begitu cara yang saya lakukan selama ini salah, ya.” Mestinya dengan cara yang baru saya pelajari ini, file komputer saya lebih tertata rapi.”

Pengetahuan yang bermakna diperoleh melalui proses. Pengetahuan yang dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajaran, yang kemudian diperluas sedikit-demi sedikit. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya. Kunci dari semua itu adalah, bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa. Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.

Pada akhir kegiatan, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisanya bisa berbentuk : a) pernyataan langsung tentang apa-apa yang telah diperoleh pada hari itu, b) catatan atau jurnal siswa, c) kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, d) diskusi, e) hasil karya yang dipamerkan di mading kelas.

Penilaian Yang Sebenarnya (authentic assessment)

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Assessment dilakukan agar guru bisa memastikan bahwa siswa  mengalami proses pembelajaran dengan benar. Bila data yang dikumpulkan oleh guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera dapat mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan sepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan pada akhir periode (cawu/semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti UNAS atau UN), tetapi dilakukan bersama-sama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.

Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assessment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir kegiatan pembelajaran.

Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan kegiatan proses pembelajaran. Guru yang ingin tahu perkembangan belajar bahasa Inggris bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat siswa menggunakan bahasa Inggris, bukan pada saat siswa mengerjakan tes bahasa Inggris. Data yang diambil dari kegiatan siswa saat para siswa melakukan kegiatan berbahasa Inggris baik di dalam kelas maupun di luar kelas itulah yang disebut data autentik.

Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil. Ketika guru mengajarkan sepak bola, siswa yang tendangannya paling bagus, dialah yang memperoleh nilai tinggi. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, siapa yang ucapannya cas-cis cus, dialah yang nilainya tinggi, bukan hasil ulangan tentang grammarnya. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan (performansi) yang diperoleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain. Karakteristik authentic assessment : a) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, b) bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, c) yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta, d)berkesinambungan, e)terintegrasi, f) dapat digunakan sebagai feedback. Intinya, dengan authentic assessment, pertanyaan yang ingin dijawab adalah,” Apakah anak-anak belajar?” bukan ”apa yang sudah diketahui?” Jadi siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara. Tidak melulu dari hasil ulangan.

Epilog : Demikian tulisan ini disajikan dengan harapan pembaca/guru lebih memahami tentang kegiatan pembelajaran dengan pendekatan CTL sehingga dapat menjadikan kehidupan kelas menjadi lebih hidup lagi dengan memberdayakan siswa menjadi lebih produktif dan kelas menjadi lebih menyenangkan.

Daftar Rujukan

Nurhadi, 2002. Pendekatan Kontekstual. Jakarta : Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama

Corebima, D.dkk. 2002. Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. Materi PTBK. Jakarta : Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama


[1] Disajikan pada Workshop Pembelajaran Kontekstual bagi Guru di SMPN 1 Kudu, Jombang- Jawa Timur, hari Minggu, 6 Desember 2009

[2] Kuncahyo Warih Wicaksono, M.Pd. adalah guru SMPN 2 Lamongan, TPK Provinsi Jawa Timur 2009

About these ads

0 Responses to “Pembelajaran kontekstual”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: